Senin, 22 Desember 2014

Hari Ibu, Bukan Kegilaan


Assalamu alaikum :) 
Malam bebbs…. makin manis aja nih gue, kalo kamu?? Semoga  sama yah… kalopun tidak mampu menyamai  sweet face-ku, setidaknya malam ini saya dan kamu memiliki kadar kegila-an yang sama yah bebs (sambil nyayi’in lagunya Andrew Garcia  I'm not crazy, I'm just a girl, I'm doing everything that I can. Jreng  jreeeeenggg). 
Sorry agak nyombong bebs, mungkin bidikan doktrin tentang perlunya meninggi pada moment-moment tertentu tepat sasaran ke otak ini bebs (nunjuk dengkul).  Untuk malam ini, menurutku kalimat dan gaya pembuka dalam coretan ini mesti meninggi dikit meskipun ibarat kata saya sedang berada di bawah permukaan laut semenanjung arab di dekat laut mati,  yang konon kabarnya secara geografis di sanalah tempat terendah yang ada di bumi. Hmm, yah bisa dibilang gaya meninggi itu strategi agar kalian tertarik menengok coretan ini. tapi tenang saja, orangnya asli low profile kok, gak sombong, anti todong-menodong,  suka makan kedondong dan naik odong-odong.  Hahaha.
Badai wehh (red: ngomong-ngomong), jangan tersinggung yah bebss kalo saya menyempatkan diri nyinggung kegilaan kalian. Saya sih berharap ada kebanggan tersenidiri dengan sisi kegilaan yang kita punya. Coba pikir… salah satu tokoh Jenius Thomas Alva Edison yang di droup out karena kebodohan pertanyaannya, dan yang lebih menyedihkan lagi pemikiran dan gaya hidupnya dianggap gila oleh orang-orang sekitarnya. Namun siapa sangka karena pertanyaan bodoh dan pemikiran gilanyalah kita bisa hidup dan bisa bertemu terang di saat malam menyembunyikan matahari.
Dibalik perilakunya yang dinilai tidak lazim sebagai orang normal, ada seorang yang selalu mendorong dan memberinya semangat hingga ia bisa membuktikan kepada dunia bahwa dibalik kegilaannya itu ia bisa menciptakan sebuah karya yang luar biasa bernilainya sepanjang masa. Siapakah orang itu? Yup, ia adalah seorang ibu. Dalam sebuah tulisan, Thomas berkata “ibukulah yang telah menjadikan ku seperti ini. Beliaulah yang menghormati dan mempercayai aku. Baginya, aku adalah yang paling berharga di dunia ini. Aku ada karena beliau ada. …….” (maaf gak hapal  seluruhnya bebbs :( ). Intinya, beliau begitu menghargai dan menghormati pengorbanan dan kasih saying seorang ibu dalam pencapaian hidupnya.

nahh berbicara tentang Ibu,  hari ini Indonesia beserta isinya sedang memperingati hari ibu. Hari dimana penghargaan dan penghormatan bagi  IBU menjadi seruan kompak dari sabang sampai marauke. Yang lucunya di tengah eufhoria itu, masih saja sebagian dari kita memandang sinis cara dan gaya  pernyataan selamat kepada seorang Ibu. Hehehe. Gak heran sih, Indonesia gitu loh, semua bisa jadi perdebatan. Masih mending kalo perdebatan itu diniatkan sebagai hal positif untuk sebuah kebenaran. Nah kalo cuman mencari mana yang hebat dan mana yang menang dengan mempersalahkan dan nyindir orang lain? Dibilang gila juga kagak, nanti Idolaku Thomas A. Edison malah tersinggung lagi. :D
Penghargaan akan pengorbanan, ketulusan, kasih sayang dan sebagainya dari seorang ibu semestinya bukan di moment ini saja, saya pribadi sangat setuju dengan itu bebh. Tapi, bukan berarti kita harus sinis menanggapi orang lain yang coba mengingat dan mengutarakan penghargaannya di Media social kan?. Bahkan ada yang nyeletuk, jika orang yang memperingati hari ibu di moment ini hanya latah, sok perhatian, bahkan dinilai hanya sebatas kata selamat saja, bukan tindakan. Wets,  hebat yah..  bisa tau niat dan kelakuan orang yang tidak disaksikan secara langsung, orang itu pasti sanro (baca:dukun). Terlepas dari latah dan eufhoria kata selamat hari Ibu, harusnya kita bisa melihat dan memaknai moment ini. Bagaimana berartinya sosok “IBU” / “Perempuan”,  saking berartinya Negarapun menetapkannya sbg hari nasional untuk mengingat dan merenungkan eksistensinya.  Tepatnya tanggal 22 Desember,  tanggal ini diresmikan oleh Presiden Soekarno  di ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia pada Tahun 1928. Santernya sih tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat Perempuan Indonesia juga untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Yang berarti hari ini semua perempuan berhak merasakan semangat hari ibu, termasuk saya ini bebs. Iyyaa… saya kan calon ibu juga? Hehehe. 

Oke bebh, melalui coretan ini… saya mau berterimakasih buat IBU-IBU yang begitu berjasa (jangan disinisi apalagi dia alay-in yahh bebsss :p)

Untuk Ibuku, yang sebenarnya dalam keseharian saya memanggilnya mama’... Terimakasih, atas kreasi tattoo kerennya di punggungku tiap saya masuk angin, trimakasih daun jaraknya tiap saya menyembunyikan rasa mual di lambungku, terimakasih jahitan pada sobekan bajuku yang membuatku terlindungi dari terik dan pelecehan, terimakasih mau menerimaku dalam berbagai kondisi, terimakasih atas pemberian maaf ditiap kenakalan dan pembangkanganku, terimakasih atas air mata harapannya, terimakasih atas doa yang tak pernah putus, terimakasih untuk segalanya :) :*

Juga terima kasih untuk Ibu-Ibu dan perempuan-perempuan hebat yang ada…
Terimakasih untuk Ibu penjual Koran, Ibu Petani, Ibu Nelayan, Ibu di tepi Jalan, seluruh Ibu dan perempuan-perempuan hebat tanpa terkecuali…
Sampaikan Salamku pada si “Bapak” yang begitu tampak gagah mendapat pendampingan oleh sosokmu, sampaikan rasa banggaku pada si “ anak”  yang begitu beruntung lahir dan besar dalam belaianmu.
Oh iyya terima kasih juga buat bebss bebbss yang sempat menengok coretan tanpa makna ini, heheh. Udah dulu yah, mo lanjut nikmatin isapan sebatang nihhh (coki-coki). J
Yang merindu, jangan sungkan saya tunggu di mimpi yahh bebs :D
Posting Komentar