Sabtu, 13 Juli 2013

Si Pria bertopi hitam


Kala itu senja menjelang maghrib… (nulis sambil memalingkan wajah keatas, dengan sudut kemiringan 450).
Tepatnya ketika saya pulang dari pertemuan salah satu komunitas yang tak dianggap  namun percaya dan yakin bahwa kami lebih keren dibanding personil band korea. Yah sebut saja komunitas atlit lompat karung, keren kan? *Kibas poni*
Saat itu hati saya penuh suka cita, perasaan yang ini hampir sama  saat saya mendapat penghargaan gaya lompat karung paling elegan di komunitas tersebut. Saking senangnya, saya yang dulunya takut sama kucing kecil, malah senyum sambil ngedip2kan mata ke kucing yang ada di depan gedung pertemuan. Alhasil kucing tersebut malah menjerit ketakutan kemudian berlari ke jalan raya hingga nyaris tertabrak odong2. Percaya gak percaya, kejadian tersebut diluar dugaan para pengamat cuaca, bahkan pengamat politik skalipun. Luar biasaaaa…
                                          
Makassar mulai gelap, saya masih berdiri di depan gedung, tepatnya dipinggir jalan raya.
“apa kita bikin disitu, belum pulangki?” tanya seorang teman.
“iyye, sebentar... lagi ada saya tunggu”. Jawabku
“owh ada tommi yang jemputki skrng? Cieee, kalo begitu saya duluan yah”
Pertanyannya seakan mendiskreditkan statusku yang slama ini mereka judge sebagai J***** (maaf, bkn jablay). 
Belum sempat saya meminta klarifikasi, teman saya si anu itu (nama disamarkan) kemudian ngebut begitu saja meninggalkanku. Agak kesal juga sih, tapi kekesalan itu terhenti saat mataku menangkap keberadaan seorang pria bertopi hitam dari ujung tikungan jalan. Itu dia sdh datang, kataku dalam hati. kusambut ia dengan senyuman sambil berlari kecil ke arahnya (disertai efek angin ala film2 india).
Penasaran apa yang terjadi? Jangan kemana2 saya akan kembali setelah hitungan ke-3

Satu…

Tigaa…
Saya dan si pria bertopi kemudian saling berhadapan. Ada pancaran kebahagian dari raut wajah kami, aku tersenyum dia balas tersenyum, aku melambai diapun melambai, aku salto dia malah tertawa… ehhh. 
Oh iya sebut saja namanya Syarif.
“wah makin manis aja gue.” Kataku.
“hahah, saya iyya ndak maniska? Padahal saya pakemi lagi topi pemberianta.”
“heheh, kalo kita gagahki. wah, inimi pesananku daeng? Makasih banyak, maaf sudah merepotkan!”
“Tidak merepotkan sama skaliji. Inilah berkahnya ramadhan, saling memberi saling menerima. Saya beri kamu ikan kering dan mangga muda, trus saya terima uangnya. Hahaha” Canda daeng syarif.

Itulah yang membuat perasaanku penuh suka cita saat itu. Alasan pertama, muslim/muslimah mana yang tidak merasakan suka cita saat diberi umur panjang bertemu kembali Bulan Ramadhan?. Kedua, kebayang kan bagaimana rasanya saat sahur pertama dengan menu kesukaan kita? Ikan kering racak manggaa cuy…

Di Kios kecil daeng syarif-lah, awal mula saya bernegosiasi tentang perburuan ikan kering dan mangga muda.  Menurutku tempat nongkrong paling asyik saat turun atau nunggu angkutan umum yah di situ, di pinggir jalan, tepatnya kios daeng syarif yang penuh keramahan dan kekeluargaan. Terlebih lagi, kota yg katanya go green malah krisis pohon tempat berteduh. jadi jangan heran kalo kebanyakan orang memilih ngademnya di mall2. Saya sempat berpikir jangan2 ini Market conspiracy temanG? Tp, ah sudahlah... sy masih dangkal dan sok untuk mengkaji hal macam itu. Hehehe

Yups, dialah daeng syarif, lelaki tua yang penuh semangat dan pantang menyerah dalam menghidupi anak2 dan istrinya. Keberkahan awal bulanpun datang dari ulurantangannya. Untung ada daeng syarif, terima kasih daeng syarif :D.

*Haapppy Ramadhaaann, and  it's time to Saaaaaahhhhuuuuuuuuuuuuurrrrrrrrrrrrrrrrrr :)



Pun, di bulan ini, dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan diikat serta dirantai setan-setan (sehingga sulit menggoda dan mengganggu orang yang berpuasa). Di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Akan tetapi, barang siapa yang terhalang mendapatkan kebaikan di bulan ini, maka sungguh merugilah ia. (HR Imam Ahmad dari Abu Hurairah).

Sebenarnya, banyak hal menarik yang ingin ku tulis tentang daeng syarif dan keluarga. Tapi apa boleh buat kayaknya raga sudah stengah hidup, sperempat lapar dan sperampat waras.

Posting Komentar